Aksi Nyata Lintas Lembaga, 135 Fragmen Karang Baru Sukses Ditanam di Perairan Tangkulara
- account_circle Info Viral Bone
- calendar_month Rabu, 26 Agt 2026
- print Cetak

Bone — Upaya pelestarian ekosistem laut di Kabupaten Bone kembali membuahkan hasil gemilang. Berdasarkan hasil survei kesehatan karang menggunakan metode Coral Health Chart yang dilakukan di Tangkulara, Senin (25/8), pertumbuhan terumbu karang hasil transplantasi menunjukkan tingkat kelangsungan hidup dan kondisi kesehatan yang sangat memuaskan.
Data persentase frekuensi skor warna karang (Coral Colour Scores) mengindikasikan bahwa seluruh karang yang dipantau terhindar dari pemutihan (bleaching). Tidak ditemukan karang dengan skor warna 1, 2, maupun 3 (0%). Mayoritas tingkat kecerahan warna karang berada pada kategori sangat sehat, didominasi oleh skor 5 sebesar 64,29%, disusul skor 4 sebesar 28,57%, dan skor 6 sebesar 7,14%. Kondisi ini membuktikan bahwa kepadatan zooxanthellae berada dalam taraf optimal untuk mendukung pertumbuhan cabang karang.
Perluasan Taman Karang Lewat Kolaborasi Lintas Sektor
Tidak hanya memantau kesehatan karang, tim gabungan yang terdiri dari UNI Dive, GGI Scuba, JARI (Jaringan Adopsi Karang Indonesia), dan Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Bone juga memperluas area restorasi di hari yang sama.
Sebanyak 9 unit media spider frame (kerangka laba-laba) diturunkan ke dasar perairan Tangkulara. Setiap kerangka diisi dengan 15 fragmen karang, sehingga total 135 fragmen karang baru berhasil ditanam untuk memperkaya ekosistem bawah laut setempat.
“Kegiatan di Tangkulara ini adalah bukti nyata bahwa kepedulian terhadap laut Bone bisa diwujudkan dalam aksi yang terukur. Tanpa dukungan para adopter, perluasan taman karang dan pemeliharaan rutin ini tidak akan bisa berjalan secara berkelanjutan,” ujar Fitri Ahyuni Herman, Dive Instructor sekaligus Inisiator Program Adopsi Karang di Kabupaten Bone, dengan penuh haru.
Indikator Ekologis yang Kuat
Senada dengan hal tersebut, Mudasir Zainuddin, S.Si., M.Si., selaku Ketua JARI, Peneliti Karang dari Universitas Wira Bhakti, sekaligus perwakilan GGI SCUBA, menyoroti aspek saintifik dari keberhasilan ini. Menurutnya, dominasi skor warna 4 dan 5 menunjukkan bahwa perairan Tangkulara sangat mendukung metode transplantasi yang diterapkan.
- “Kolaborasi lintas sektor antara akademisi, instruktur penyelam, dan komunitas konservasi adalah model ideal untuk Solusi Berbasis Alam (Nature-based Solutions),” ungkap Mudasir.
- Ia berharap kawasan Tangkulara tidak hanya menjadi benteng alami ekosistem pesisir Bone, tetapi juga bertransformasi menjadi pusat edukasi serta bioindikator kesehatan laut di masa mendatang.
Ke depannya, area restorasi Tangkulara akan terus dipantau secara berkala guna mencatat metrik pertumbuhan lanjutan, sekaligus dipersiapkan sebagai kawasan percontohan untuk pariwisata bahari ramah lingkungan.
- Penulis: Info Viral Bone
