KOTI Pemuda Pancasila Sulsel Resmi Dikomandoi Rizal Bahri, ST Diza Rasyid Ali Tegaskan Era Premanisme Telah Usai
- account_circle Info Viral Bone
- calendar_month Selasa, 1 Sep 2026
- print Cetak

MAKASSAR — Monumen Mandala, Makassar, mendadak berubah menjadi lautan oranye-hitam pada Sabtu, 29 Agustus 2026. Sekitar seribu kader loreng Pemuda Pancasila dari 24 kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan berdiri tegak dengan kepalan tangan, menjadi saksi lahirnya babak baru Komando Inti Mahatidana (KOTI) MPW Pemuda Pancasila Sulsel.
Di atas podium, Ketua MPW Pemuda Pancasila Sulsel, ST Diza Rasyid Ali, secara resmi melantik Rizal Bahri sebagai Ketua KOTI MPW Pemuda Pancasila Sulsel periode 2026–2031. Pelantikan ini bukan sekadar seremoni pergantian kepemimpinan, melainkan penegasan arah baru organisasi.
Dalam pidato perdananya, Rizal Bahri langsung menekankan pentingnya soliditas di dalam tubuh komando inti. Ia menegaskan bahwa KOTI bukan sekadar pasukan seremonial atau wadah untuk gagah-gagahan, melainkan himpunan kader terbaik tempat di mana loyalitas diuji.
“Sesuatu yang berat akan ringan. Yang sulit akan mudah. Jarak yang jauh akan dekat bila ada kemauan KOTI se-Sulsel,” ujar Rizal di hadapan ratusan kader yang disambut teriakan heroik, “Pancasila! Abadi!”
Menyadari masih melekatnya stigma lama terhadap organisasi, Rizal dengan tegas menyatakan bahwa paradigma premanisme di dalam tubuh Pemuda Pancasila sudah sepenuhnya selesai. Ia mengulang doktrin penting dari ST Diza Rasyid Ali bahwa organisasi kini menganut prinsip tiga O: Omong, Otak, dan terakhir Otot.
Pernyataan tersebut diperkuat dengan penekanan pada ikatan emosional antar-kader. “Kader PP satu yang dicubit, semua harus merasakan sakitnya,” tegas Rizal, sekaligus meminta para kader untuk tidak pernah takut berbuat kebenaran dan aktif mengawal program organisasi hingga tingkat Pimpinan Anak Cabang (PAC).
Tinggalkan Gaya Lama, Kawal Program Nyata
Pesan yang jauh lebih keras dan tegas disampaikan oleh Ketua MPW Pemuda Pancasila Sulsel, ST Diza Rasyid Ali. Diza meminta seluruh pengurus baru untuk meninggalkan gaya-gaya lama yang tidak produktif.
Ia memaparkan bahwa MPW memiliki 15 badan dan lembaga sebagai motor eksekutor program. Fokus utama saat ini, kata Diza, adalah mengawal program-program produktif seperti pengembangan ayam petelur di setiap kabupaten hingga tingkat Majelis Pimpinan Cabang (MPC), serta penguatan koperasi.
“Itu yang kita kawal, bukan otot,” ujar Diza blak-blakan.
Diza mengingatkan bahwa Pemuda Pancasila mampu eksis melintasi berbagai era kepemimpinan nasional karena organisasi ini senantiasa tahu cara memperbaiki diri. Bukti nyata eksistensi tersebut terlihat dari kader-kader PP yang kini telah menempati berbagai posisi strategis, baik di legislatif maupun eksekutif.
Terkait dinamika sosial dan aksi massa, Diza memberikan peringatan keras agar kader tidak mudah diadu domba atau gemar turun ke jalan melakukan aksi unjuk rasa tanpa memahami substansi masalah secara mendalam.
“Yang mau protes jangan asal turun. Harus tahu dulu apa masalahnya dan harus ada solusinya,” sindir Diza.
Di penghujung sambutannya, Diza menutup acara dengan sebuah pengakuan pribadi yang menghentak. Sebagai pimpinan wilayah, ia menegaskan komitmen moralnya dengan memilih untuk tidak bermain proyek di Sulawesi Selatan.
“Saya sudah korbankan diri. Karena saya tidak mau kepala Pemuda Pancasila dijadikan jaminan. Apalagi mau disetir,” pungkasnya.
Sore itu, prosesi pelantikan di Monumen Mandala memang telah usai. Namun, pesan kuat tentang mengedepankan “otak di atas otot” baru saja resmi dimulai di bumi Sulawesi Selatan.
- Penulis: Info Viral Bone
